PENYAKIT INFEKSI VIRUS PADA KEHAMILAN



0 komentar
Infeksi didefinisikan sebagai invasi dan pembiakan mikro-organisme di jaringan tubuh, dengan akibat yang mungkin dapat dideteksi secara klinis atau hanya merupakan jejas seluler local Secara praktis, Infeksi dapat bergejala dan memberikan tanda klinis, dapat pula tidak terdeteksi.
Infeksi disebut bersifat sistemik, bila mengenai tubuh secara keseluruhan. Infeksi sistemik, dibedakan dengan infeksi fokal, yang merupakan infeksi yang terbatas pada organ/jaringan tubuh tertentu1. Secara praktis, infeksi sistemik memberikan gejala demam, peningkatan respirasi dan denyut nadi, serta memperlihatkan keterlibatan yang jelas sistem organ lain. Beberapa infeksi sistemik akan dibahas dalam makalah ini, khususnya dalam kaitan dengan pengaruh, pengenalan dan penatalaksanaannya pada kehamilan.Dalam memahami seberapa besar pengaruh infeksi terhadap individu, perlu dipahami konsep dasar penyakit infeksi, yaitu adanya interaksi antara 3 komponen : host (pejamu/individu), agent (kuman penyakit, bisa berupa bakteri, jamur, virus, protozoa, parasit), dan environment (lingkungan). Penyakit infeksi terjadi karena terdapat hubungan antara 3 komponen tersebut. Berat infeksi akan ditentukan oleh sifat yang terdapat pada 3 komponen tersebut. Rangkuman hal tersebut disajikan pada tabel 12. Kehamilan merupakan salah satu faktor pada komponen host, yang berpengaruh terhadap perjalanan penyakit infeksi.

Secara ringkas tentang penyakit-penyakit infeksi (yang perlu diwaspadai) pada ibu hamil adalah:
1. Toxoplasma
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasa hidup di dalam usus hewan peliharaan rumah seperti kucing, berkembang dalam sel epitel usus kucing berubah menjadi kista (ookista) yang keluar bersama tinja kucing tersebut. Sehingga sumber penularannya adalah kotoran hewan tersebut. Hewan lain yang dapat menjadi pembawa Toxoplasma adalah tikus, burung merpati, ayam, anjing dan mamalia lain yang mencari makan di tanah.
Cara penularan penyakit ini dapat melalui berbagai cara yaitu:
1. Mengkonsumsi daging mentah/kurang matang yang mengandung ookista
2. Menkonsumsi sayuran/buah mentah yang mengandung ookista tidak dicuci bersih.
3. Kontaminasi lewat darah (transfusi/suntikan) atau saliva (ludah) yang mengandung ookista.
4. Transplantasi organ yang terinfeksi toxoplasma.
5. Janin terinfeksi dari ibu (parasit dapat menembus sawar plasenta)
Pada umumnya, infeksi toxoplasma terjadi tanpa disertai dengan gejala yang spesifik, sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Kira-kira hanya 10 - 20% kasus infeksi toxoplasma yang disertai gejala ringan mirip influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam ringan, sakit kepala, nyeri otot, dan umumnya tidak menimbulkan masalah yang berat. Kecurigaan terhadap toxoplasmosis baru timbul bila gejala klinis disertai pembesaran kelehjar limfe, khususnya di sudut rahang, di daerah depan dan belakang telinga, dan tidak nyeri tekan.
Infeksi toxoplasma lebih berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu misalnya penderita AIDS, pasien transplantasi organ yang mendapat obat penekan respon imun (seperti kortikosteroid), mendapat radioterapi dan lainnya.
Beberapa penelitian menyebutkan ibu hamil yang terkena infeksi toxoplasma pada trimester pertama, 15% dari janin yang dikandungnya akan turut terinfeksi, dibandingkan dengan 30% jika terinfeksi pada trimester kedua dan 45-60% pada trimester ketiga. Infeksi yang terjadi pada kehamilan yang lebih muda akan menimbulkan gejala yang lebih berat bahkan dapat fatal.
Jika wanita hamil terinfeksi toxoplasma, maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus atau keguguran (sekitar 4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita toxoplasmosis bawaan. Pada toxoplasmosis bawaan, gejala dapat langsung terlihat adanya masalah klinis dan atau kecacatan seperti splenomegali (pembesaran limpa), hepatomegali (pembesaran hati), ikterik (bayi kuning), demam, pneumonia (radang paru), konvulsi (kejang), hidrocepalus (pembesaran ukuran kepala), mikrocephalus (ukuran kepala kecil) dan sebagainya. Sedangkan toxoplasmosis bawaan yang asimptomatik (gejala tidak langsung nampak), gejala baru muncul/tampak beberapa hari, minggu, atau bulan, bahkan beberapa tahun kemudian seperti kelainan mata dan telinga, kelainan otak, ensefalitis (radang otak), keterbelakangan mental, kelainan jantung dan sebagainya.
Dengan gejala-gejala yang tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik), diagnosis toxoplasmosis sukar ditentukan secara klinis. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan diagnosisnya. Kadang perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan (diulang) untuk mendapatkan hasil positif.
Cara untuk menghindarkan diri dari Toxoplasmosis, antara lain:
1. Pencegahan terjadinya Toxoplasmosis kongenital adalah dengan menjaga tidak terjadi infeksi akut selama selama kehamilan, atau jika infeksi akut segera diobati.
2. kebersihan diri dengan mencuci tangan sebelum makan, atau setelah kontak dengan kucing dan atau kotoran kucing.
3. Konsumsi makanan yang dimasak sampai matang benar (kista dalam jaringan mati pada pemanasan > 66° C)
4. Jangan makan daging dan atau telur mentah atau setengah matang
5. Cuci bersih semua buah dan sayuran sebelum dimakan mentah.
6. Gunakan sarung tangan (karet) saat berkebun, membersihkan kandang hewan, dan terutama selama berhubungan dengan kotoran kucing. Setelah selesai cuci tangan, sarung tangan dan semua peralatan yang dipakai dengan sabun sampai bersih. Jangan meletakkan peralatan tersebut sembarangan (harus jauh dengan makanan atau peralatan makan).
7. Binatang yang dapat memindahkan toxoplasma seperti tikus, kecoa, lalat dan binatang merayap lainnya harus dibasmi.
8. Karena kucing bisa menghasilkan oosit, pembuangan fesesnya harus diperhatikan benar.

2. Rubella
Infeksi rubella disebabkan oleh virus rubella, bisa menyerang anak-anak dan dewasa muda. Biasanya infeksi karena virus ini ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Apabila terjadi pada wanita hamil muda infeksi rubella sangat berbahaya karena menyebabkan kelainan pada bayi. Menurut American College of Obstetrician and Gynekologyst (1981), jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka resiko kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi terjadi di trimester pertama maka resikonya menjadi 25%.
Cara penularan (transmisi) infeksi ini adalah melalui Saluran pernafasan Janin terinfeksi dari ibu. Penentuan diagnosisnya juga dengan pemeriksaan laboratorium. Apabila memungkinkan, bisa dilakukan vaksinasi agar memiliki kekebalan terhadap infeksi virus tersebut.

3. Cytomegalovirus
Infeksi CMV disebabkan oleh virus cytomegalo. Virus ini termasuk golongan keluarga herpes, dan dapat tinggal secara laten di dalam tubuh. Jika ibu hamil terinfeksi CMV maka janin yang dikandung mempunyai resiko tertular sehingga terjadi gangguan yang bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Umumnya bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah, ada gangguan gejala kuning, pembesaran hati dan limpa, ketulian, pengkapurn otak, mikrosefali (kepala kecil), retardasi mental dan sebagainya. Infeksi akut virus ini mempunyai resiko yang lebih tinggi daripada infeksi berulang. Cara penularan (transmisi) penyakit ini adalah melalui:
1. Kontak langsung/tidak langsung.
2. Hubungan seksual
3. Transfusi darah
4. Transplantasi organ
5. Janin terinfeksi dari ibu
6. Bayi infeksi saat menyusui

4. Herpes
Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkanoleh virus herpes simplex tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam di ganglion sistem syaraf otonom. Infeksi virus ini dapat menyebabkan terjadinya kanker leher rahim (serviks uteri) dan bila terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan kelainan serius pada janin. Kelainan pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II, dapat berupa lepuh pada kulit (tidak selalu muncul), stomatis rekuren, mikrosefali (kepala kecil), radang otak, radang mata, radang hati dan sebagainya. Penularan (transmisi) penyakit ini melalui
1. Kontak langsung/tidak langsung
2. Hubungan seksual
3. Janin terinfeksi dari ibu
4. Bayi terinfeksi saat lahir (kontak dengan leher rahim yang terinfeksi)
Kemungkinan terjadinya infeksi virus ini bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium.

PEMERIKSAAN TORCH SAAT HAMIL
Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi infeksi TORCH, yang disebabkan oleh parasit TOxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan virus Herpes. Cara mengetahui infeksi TORCH adalah dengan mendeteksi adanya antibodi dalam darah pasien, yaitu dengan pemeriksaan :
• Anti-Toxoplasma IgM dan Anti-Toxoplasma IgG
(untuk mendeteksi infeksi Toxoplasma)
• Anti-Rubella IgM dan Anti-Rubella IgG
(Untuk mendeteksi infeksi Rubella)
• Anti-CMV IgM dan Anti-CMV IgG
(untuk mendeteksi infeksi Cytomegalovirus)
• Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG
(untuk mendeteksi infeksi virus Herpes)
Infeksi toksoplasma dan CMV dapat dapat bersifat laten tetapi yang berbahaya adalah infeksi primer (infeksi yang baru pertama terjadi di saat kehamilan, terutama pada trimester pertama). Jadi, bila hasil pemeriksaan (yang dilakukan saat hamil) positif maka perlu dilihat lebih lanjut apakah infeksi baru terjadi atau telah lama berlangsung. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan :
• Aviditas Anti-Toxoplasma IgG
• Aviditas Anti-CMV IgG

Pentingnya Ibu Hamil melakukan Pemeriksaan TORCH
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur, dan dapat juga menyebabkan kelainan pada janin yang dikandungnya. Kelainan yang muncul dapat bersifat ringan atau berat, kadang-kadang baru timbul gejala setelah remaja.

Kelainan yang muncul dapat berupa :
• kerusakan mata (radang mata)
• kerusakan telinga (tuli)
• kerusakan jantung
• gangguan pertumbuhan
• gangguan saraf pusat
• kerusakan otak (radang otak)
• keterbelakangan mental
• pembesaran hati dan limpa
Pada umumnya, infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil tidak bergejala sehingga untuk mendiagnosis adanya infeksi TORCH diperlukan pemeriksaan laboratorium
Indikasi pemeriksaan TORCH :
• Wanita yang akan hamil atau merencanakan segera hamil
• Wanita yang baru/sedang hamil bila hasil sebelumnya negatif atau belum diperiksa, idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali
• Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi pada saat hamil
PANEL TORCH
• Anti-Toxoplasma IgM
• Anti-Toxoplasma IgG
• Anti-Rubella IgM
• Anti-Rubella IgG
• Anti-CMV IgM
• Anti-CMV IgG
• Anti HSV2 IgM
• Anti HSV2 IgG

5. Infeksi Lain : PHS, Hepatitis B, HIV AIDS dan lainnya
PHS atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Gonorrhoea (GO), Shyphilis, dan Chlamydia dan atau Hepatitis B, HIV AIDS bila menginfeksi ibu hamil dapat menyebabkan kelainan-kelainan pada janin berupa kecacatan. Penyakit yang akan muncul kemudian misalnya sirosis hati dan kanker hati (bila terinfeksi Hepatits B), tertular penyakit HIV AIDS maupun terjadinya keguguran.
Cara penularan (transmisi) bisa melalui:
• Hubungan seksual
• Kontak langsung/tidak langsung
• Janin terinfeksi dari ibu
• Bayi terinfeksi saat hamil.

6. Virus Hepatitis B (VHB)
Prevalensi pengidap VHB pada bumil di Indonesia berkisar antara 1-5 % dimana keadaan ini bergantug pada prevalensi VHB di populasi. Kehamilan sendiri tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi, jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan mortalitas yang tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu dapat menimbulkan abortus dan terjadinya perdarahan pascapersalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat gangguan fungsi hati. Pada bayi masalah yang serius umumnya tidak terjadi pada masa neonatus, tetapi pada masa dewasa. Jika terjadi penularan vertikal dapat dicegah, berarti mencegah terjadinya kanker hati secara primer dan dapat ikut meningkatkan kualitas sumber daya manusia akan datang.
Pencegahan
• Kewaspadaan universal (universal precaution)
Hindari hubungan seksual dan pemakaian alat bantu atau bahan dari pengidap. Vaksinasi HB bagi seluruh tenaga kesehatan sangat penting, terutama yang sering terpapar dengan darah
• Skrining HBsAg pada ibu hamil
Skrining HBsAg pada ibu hamil, terutama pada daerah dimana terdapat prevalensi tinggi
• Imunisasi; penularan dari ibu sebagian besar dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah telah menaruh perhatian besar terhadap penularan vertikal VHB dengan membuat program pemberian vaksinasi HB bagi semua bayi yang lahir di fasilitas pemerintah dengan dosis 5 mikrogram pada hari ke 0, umur 1 bulan, dan 6 bulan, tanpa mengetahui bayi tersebut lahir dari ibu dengan HbsAg positif atau tidak.

Penanganan
Persalinan pengidap VHB tanpa infeksi akut tidak berbeda dengan penanganan persalinan umunya.
1. Pada infeksi akut VHB dan adanya hepatitis vfulminan persalinan peervaginam usahakandengan trauma sekecil mungkin dan rawat bersama dengan spesialis penyakit dalam (spesialis hepatologi). Gejala hepatitis fulminan antara lain snagat ikterik, nyeri perut kanan atas, kesadaran menurun dan hasil pemeriksaan urin warna seperti the pekat, urobilin dan bilirubin positif, pada pemeriksaan darah selain urobilin dan bilirubin positif SGOT dan SGPT sangat tinggi biasanya diatas 1000.
2. Pada ibu hamil dengan viraloat tinggi dapat dipertimbangkan pemberian HBIG atau lamivudin pada 1-2 bulan sebelum p[ersalinan. Mengenai hal ini masih ada bebrapa pendapat yang menyatakan lamivudin tidak ada pengaruh pada bayi, tetapi ada yang masih menghawatirkan pengaruh tempat teratogenik obat tersebut.

Beberapa tips untuk menghindari Infeksi TORCH dan Infeksi lainnya.
1. Pola hidup yang bersih dan sehat, baik makanan, pakaian, kebersihan diri, tempat tinggal, dan sebagainya.
2. Periksa dan konsultasi pada dokter bila termasuk resiko tinggi terinfeksi penyakit torch dan infeksi lainnya.
3. Bila hamil, harus rutin periksa ke dokter (ahlinya) terutama bagi yang beresiko tinggi agar dapat dideteksi dini sehingga bila positif terinfeksi dapat segera ditangani.
4. Hanya melakukan hubungan seksual yang sehat dengan istri.
5. Membiasakan hidup sehat dan seimbang dengan makanan bergizi, rutin olahraga, istirahat cukup serta kehidupan spiritual yang taat.
6. Bagi yang suka berkebun dan atau memelihara hewan yang bisa menularkan penyakit ini harus selalu menjaga dan mencegah (mengantisipasi) resiko terjadi atau tertularnya penyakit.




Malaria Pada Kehamilan

Sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dinegara-negara seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama dinegara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Empat spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae dan P. Falciparum. Badan kesehatan seduania (WHO) melaporkan tiga juta anak manusia meninggal setiap tahun karena menderita malaria. Dan tiap tahun terdapat 110 juta penderita malaria, 280 juta orang sebagai “Carrier” dan 2/5 penduduk dunia selalu kompak dengan malaria (1,3,31).
Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan. Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya (2,4,5).
Di daerah endemi malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan wanita tidak hamil. Kemudahan infeksi itu terjadi karena kekebalan yang menurun selama kehamilan, akibatnya dapat terjadi peningkatan Prevalensi densitas parasit malaria berat (10).
Laporan dari berbagai negara menunjukan insidens malaria pada wanita hamil umumnya cukup tinggi, dari El vador 55,75% yaitu 63 kasus dari 113 wanita hamil; dari berbagai tempat bervariasi antara 2-76% (6,13).
Berdasarkan hal-hal diatas terlihat bahwa malaria selama kehamilan perlu mendapat perhatian khusus. Selanjutnya pada tinjauan pustaka ini akan dibahas pengaruh malaria terhadap ibu dan janinnya serta kontrol terhadap malaria selama kehamilan.

II. PENGARUH MALARIA SELAMA KEHAMILAN
A. PADA IBU
Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseotrang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria klinis berat sampai menyebabkan kematian (4).
Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang dilaporkan (15). Gejala klinis malaria dan densitas para sitemia dipengaruhi paritas, sehingga akan lebuh berat pada primigravida (kehamilan pertama) daripada multigravida (kehamilan selanjutnya) 2. Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah demam, anemia, hipoglikemia, edema paru, akut dan, malaria berat lainnya.

B. PADA JANIN
Malaria Plasenta
Plasenta (ari-ari) merupakan organ penghubung antara ibu dan janinnya.
Fungsi plasenta antara lain :
1. memberi makanan kejanin (nutrisi)
2. mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi)
3. memberi O2 dan mengeluarkan CO2
4. membentuk hormon dan
5. mengeluarkan anti bodi kejanin (25).
Plasenta juga berfungsi sebagai “Barrier” (penghalang) terhadap bakteri, parasit dan virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti peredaran darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal (7,29,30). Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk kesirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital. Beberapa penelitii menduga hal ini terjadi karena adanya kerusakan mekanik, kerusakan patologi oleh parasit, fragilitas dan permeabilitas plasenta yang meningkat akibat demam akut dan akibat infeksi kronis @ 5.
Kekebalan ibu berperan menghambat transmisi parasit kejanin. Oleh sebab itu pada ibu-ibu yang tidak kebal atau dengan kekebalan rendah terjadi transmisi malaria intra-uretrin ke janin, walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih belum diketahui 20.
Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas masih belum diketahui 32. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena terganggunya tarnsfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiper-pireksia) atau hipoksia karena anemial5. Kemungkinan lain adalah Tumor
Necrosis Factor (TNF) yang dikeluarkan oleh makrofag bila di aktivasi oleh antigen, merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan berbagai Kelainan pada malaria, antara lain demam, kematian janin, abortus.
Umumnya infeksi pada plasenta lebih berat daripada darah tepi. Kortmann (1972) melaporkan bahwa plasenta dapat mengandung banyak eritrosit yang terinfeksi (sampai 65%), meskipun pada darah tepi tidak ditemukan parasit. Jadi tidak ada hubungan antara kepdatan parasit dalam darah tepi dan plasenta pada plasenta yang baik perkembangan kekebalannya. Sebaliknya pada wanita yang tidak kebal dari daerah non endemi, sering terdapat parasit ilmiah tinggi tanpa infeksi parasit yang berat pada plasenta. Jefile di Kampala Uganda, melaporkan dari 750 wanita hamil yang diperiksa, 5,6% di antaranya menanggung parasit malaria dalam darah tepinya, tetapi pada pemeriksaan plasenta infeksinya mencapai 6,1%. Hal ini mungkin terjadi karena plasenta merupakan tempat parasit berkembang biak, seperti pada kapiler alat dalam lainnya.
Pada semua daerah, malaria maternal dapat dihubungkan dengan berkurangnya berat badan lahir, terutama pada kelahiran anak pertama. Hal ini mungkin akibat gangguan pertumbuhan intra-uretrin, persalinan prematur atau keduanya. Selama epidemi telah dilaporkan kelahiran prematur yang tinggi, mungkin hal ini berhubungan dengan gejala infeksi akut. Pertumbuhan lambat intra-uretrin pada malaria maternal berhubungan dengan malaria plasenta dan hal ini disebabkan oleh berkurangnya transfer makanan dan oksigen dari ibu ke janin15. Tetapi hal ini biukan suatu mekanisme yang menghambat pertumbuhan intra uretrin, karena berat badan lahir rendah (BBLR) dilaporkan pada daerah dengan pervalensi malaria plasenta rendah. Laporan terakhir menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara BBLR dengan malaria plasenta. Hal ini berarti bahwa patofisiologi pertumbuhan lambat intra-uretrin pada malaria adalah multifactor. Sebagai contoh, anemia maternal berhubungan dengan BBLR baik di daerah endemi maupun pada daerah non-endemi.
Insidens malaria plasenta dipengaruhi oleh paritas ibu yaitu lebih tinggi daripada primipara (persalinan pertama) dan makin rendah sesuai dengan peningkatan paritas ibu. Demikain pula berat badan lahir dipengaruhi oleh paritas ibu, ini dapat diterangkan bahwa pada multi gravida kekeblan pada ibu telah dibentuk dan meningkat.
III. KONTROL MALARIA SELAMA KEHAMILAN
1. Kemoprofilaksis
Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil dalam daerah endemi malaria. Beberapa penelitian menunjukan bahwa kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia pada ibu dan menambah berat badan lahir terutama pada kelahiran pertama. Resiko malaria dan konsekwensi bahayanya tidak meningkat selama kehamilan kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis selama kehamilan pertama.
Pada daerah endemisitas tinggi untuh P. falciparun infeksi malaria selama kehamilan menyebabkan rendahnya berat bayi lahir merupakan faktor resiko yang paling besar untuk mortalitas neonatal. Kemoprofilaksis yang diberikan selama kehamilan dapat meningkatkan berat kelahiran rata-rata, terutama pada kehamilan pertama dn menurunkan tingkat mortalitas bayi kira-kira 20%.
Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan pertama bagi ibu yang menerima kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi yang ibunya tidak menerima kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir lebih kurang pada bayi dan ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan denghan bayi dari ibu-ibu yang tidak mendapat kemoprofilaksis.

2. Kemoterapi
Kemoterpi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterpi pada wanita hamil tampak kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi.

3. Mengurangi Kontak dengan Vektor
Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelabu yang dicelup dengan insektisida mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas tinggi, insidens klinis dan mortalitas malaria. Pada wanita hamil di Thailand dilaporkan bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal dan parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan lahir rendah.
4. Vaksinasi
Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan, yaitu :
a. Tingkat imunitas sebelum kehamilan
b. Tahap siklus hidup parasit
c. Waktu pemberian vaksin.
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penanggulangan malaria.




DAFTAR PUSTAKA

http://pkusolo.wordpress.com/2007/11/20/penyakit-infeksi-sistemik-pada-kehamilan-segi-praktis-pengenalan-dan-penatalaksanaannya/

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiriohardjo: Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

newer post older post