MAKALAH OBAT – OBAT ANTIDIABETIKA



1 komentar
A. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui penggolongan, indikasi, kontra indikasi, farmakokinetik, farmakodinamik, efek samping, cara pemberian dan hal-hal yang berhubungan dengan proses asuhan kebidanan dari obat-obat antihipertensi.

B. CARA KERJA
Mahasiswa bekerja secara kelompok. Tiap kelompok bekerja dengan obat tertentu secara bergantian. Amati tiap sediaan obat, mencatat :
a. nama obat (merek dagang) dan zat berkhasiat
b. indikasi, kontra indikasi,
c. farmakokinetik, farmakodinamik
d. efek samping
e. cara pemberian
f. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses asuhan kebidanan

C. BAHAN DAN ALAT
No Nama obat No Nama obat
1 Glibenkamid tab 11 Avandaryl 2 mg
2 Metformin tab 12 Actos tab
3 Metrix tab 1 mg 13 Actaprith HM 100
4 Glucobay tab 14 Actrapid Novolet
5 Glucontrol tab 15 Insulatard HM 100
6 Glucovance 500/2,5 16 Mixtrad HM 100
7 Avandia 17 Novomix flexpent
8 Avandamet 2 mg 18 Novorapid flexpen
9 Glurenorm 30 tab 19 Lantus
10 Diamicron









D. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Diabetes adalah suatu kondisi yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah (hyperglycemia) sehingga menimbulkan risiko kerusakan microvascular (retinopathy, nephropathy dan sakit saraf). Dan macrovascular (stroke, tekanan darah tinggi dan kelainan jantung)
Tabel: Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM(mg/dl[2]
Kadar gula darah acak
Plasma vena Bukan DM Belum pasti DM DM
<110 110 - 199 >200
Darah kapiler <90 90 - 199 >200
Kadar gula darah puasa
Plasma vena

<110 110 - 126 >126
Darah kapiler <90 <90 - 109 >110

2. Penyebab
Penyebab diabetes yang utama adalah karena kurangnya produksi insulin (diabetes mellitus tipe 1, yang pertama dikenal), atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (diabetes mellitus tipe 2, bentuk yang lebih umum). Selain itu, terdapat jenis diabetes mellitus yang juga disebabkan oleh resistansi insulin yang terjadi pada wanita hamil. Tipe 1 membutuhkan penyuntikan insulin, sedangkan tipe 2 diatasi dengan pengobatan oral dan hanya membutuhkan insulin bila obatnya tidak efektif. Diabetes mellitus pada kehamilan umumnya sembuh dengan sendirinya setelah persalinan.

3. Jenis Diabetes Mellitus Ada 2
Tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1 — dulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, "diabetes yang bergantung pada insulin"), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.



Tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2 — dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, "diabetes yang tidak bergantung pada insulin") — terjadi karena kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin"(adanya defek respon jaringan terhadap insulin)yang melibatkan reseptor insulin di membran sel.

Tipe 3
Diabetes Gestasional, ini terjadi pada ibu hamil.

4. Gejala-Gejala Diabetes Mellitus
Polyuria
Polyuria berarti penderita mengalami banyak kencing(sering kencing)

Polydipsia
Akibat banyak kencing sehingga penderita mengalami haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi)

Polyphagia
Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi)
Terapi diabetes mellitus hendaklah bertujuan untuk mencegah akibat-akibat defisiensi insulin yang akan segera timbul, yang meliputi hiperglikemia simptomatik (yaitu : polyuria, polydipsia dan penurunan berat badan), ketoasidosis diabetika (KAD) dan sindroma hyperosmolar non-ketotic (SHNK) dan mencegahkan atau meminimalkan komplikasi-komplikasi penyakit yang berlangsung lama yang timbul akibat diabetes mellitus.
Strategi terapi :
Strategi terapi (penatalaksanaan terapi) untuk penderita diabetes mellitus secara non farmakologi dan farmakologi.

A. Non Farmakologi
1. Pendidikan pada Pasien
Agar pengobatan diabetes mellitus dapat optimum pasien perlu diberikan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan diabetes mellitus. Tetapi tidak hanya untuk pasien juga untuk keluarganya harus mendapat pengetahuan yang cukup mendalam mengenai peyebab dan strategi terapi diabetes mellitus. Pengobatan akan diperudah bia pasien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam perawatan penyakitnya sehari-hari.
Pemberian pengetahuan secara dini hendaklah menekankan pentingnya segi-segi praktis pengobatan penyakit, yang meliputi perencanaan diet dan tekhnik pemantauan glukosa dan keton-keton. Perlu disampaikan kepada pasien kaitan-kaitan yang ada antara diet, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan.dukungan dari dokter (pemberi diagnosis/sebagai pemberi instruksi), apoteker (pemberi obat dan informasi), dan ahli gizi serta perawat (untuk membantu perawatan) merupakan hal penting dalam mencapai sasaran pemberian pengetahuan. Pemberian pengetahuan dan pengobatan akan paling efektif bila semua unsur profesional tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya secara perorangan.

2. Diet
Diet merupakan hal penting pada semua jenis diabetes mellitus dan juga bermanfaat bagi pasien yang menderita gangguan toleransi glukosa. Tujuan terapi diet hendaknya diberitahukan kepada pasien dan ahli gizi yang merawat dan sasaran pemberian diet supaya ditelaah ulang secara teratur. Rencana makanan harus dibuat dengan mempertimbangkan kesukaan, penghasilan dan kebutuhan masing-masing pasien

3. Olah Raga
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar glukosa darah tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat tetapi olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Olah raga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur). Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Ctoh olah raga yang disarankan seperti jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang dll.


B. Farmakologi
Terapi obat dengan obat antidiabetik oral terutama ditujukan untuk membantu penanganan pasien diabetes mellitus tipe II. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat antidiabetik oral terbagi menjadi 5 golongan. Salah satu terapi obat antidiabetik oral adalah golongan sulfonilurea.

1. Terapi Insulin
a. Memulai terapi insulin
Untuk penderita DMT1 insulin segera diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Sementara untuk DMT2, terapi insulin dapat dimulai antara lain untuk pasien dengan kegagalan terapi oral, kendali kadar glukosa darah yang buruk (A1c>7,5 % atau kadar glukosa darah puasa >250 mg/ dL), riwayat pankreatektomi, atau disfungsi pankreas, riwayat fluktuasi kadar glukosa darah yang lebar, riwayat ketoasidosis, riwayat penggunaan insulin lebih dari 5 tahun, dan penyandang DM lebih dari 10 tahun.
Menurut Petunjuk Praktis Terapi Insulin Pada Pasien DM yang disusun oleh Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) 2007, pada pasien DMT1, pemberian insulin yang dianjurkan adalah injeksi harian multipel dengan tujuan mencapai kendali kadar glukosa darah yang baik. (Selain itu, pemberian dapat juga dilakukan dengan menggunakan pompa insulin (continous subcutaneous insulin infusion [CSII]).
Sedangkan untuk DMT2, ada beberapa cara untuk memulai dan penyesuaian dosis insulin. Tapi sebagai pegangan, jika kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan baik (A1C > 6.5%) dalam jangka waktu 3 bulan dengan 2 obat oral, maka sudah ada indikasi untuk memulai terapi kombinasi obat antidiabetik oral dan insulin.Pada keadaan tertentu, di mana kendali glikemik amat buruk dan disertai kondisi katabolisme, seperti kadar glukosa darah puasa >250 mg/dL, kadar glukosa darah acak menetap >300 mg/dL, A1C >10%, atau ditemukan ketonuria, maka terapi insulin dapat mulai diberikan bersamaan dengan intervensi pola hidup. Selain itu, terapi insulin juga dapat langsung diberikan pada pasien DM yang memiliki gejala nyata (poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan). Kondisi-kondisi tersebut sering ditemukan pada pasien DMT1 atau DMT2 dengan defisiensi insulin yang berat. Apabila gejala hilang, obat antidiabetik oral dapat ditambahkan dan penggunaan insulin dapat dihentikan.
Untuk mencapai sasaran pengobatan yang baik, maka diperlukan insulin dengan karakteristik menyerupai orang sehat, yeitu kadar insulin yang sesuai dengan kebutuhan basal dan prandial. Pemberian insulin basal, selain insulin prandial, merupakan salah satu strategi pengobatan untuk memperbaiki kadar glukosa darah puasa atau sebelum makan. Oleh karena glukosa darah setelah makan merupakan keadaan yang dipengaruhi oleh kadar glukosa darah puasa, maka diharapkan dengan menurunkan kadar glukosa darah basal, kadar glukosa darah setelah makan juga ikut turun.
Cara pemberian insulin basal dapat dilakukan dengan pemberian insulin kerja cepat drip intravena (hanya dilakukan pada pasien rawat inap), atau dengan pemberian insulin kerja panjang secara subkutan. Jenis insulin kerja panjang yang tersedia di Indonesia saat ini adalah insulin NPH, insulin detemir dan insulin glargine.
Idealnya, sesuai dengan keadaan fisiologis tubuh, terapi insulin diberikan sekali untuk kebutuhan basal dan tiga kali dengan insulin prandial untok kebutuhan setelah makan. Namun demikian, terapi insulin yang diberikan dapat divariasikan sesuai dengan kenyamanan penderita selama terapi insulin mendekati kebutuhan fisiologis.
ntuk penderita DMT1 tidak dianjurkan memberikan terapi insulin dengan dua kali suntikan karena sangat sulit mencapai kendali glukosa darah yang baik. Pada penderita DMT2 rejimen seperti pada penderita DMT1 juga dapat digunakan, namun karena pada penderita DMT2 tidak ditemukan kekurangan insulin yang mutlak dan untuk meningkatkan kenyamanan penderita, pemberian insulin dapat dimodifikasi. Misalnya untuk penderita DMT2 masih bisa menggunakan rejimen dua kali suntikan sehari dengan insulin campuran/kombinasi yang diberikan sebelum makan pagi dan sebelum makan malam. Atau hanya diberikan satu kali sehari dengan insulin basal yang diberikan pada malam hari dengan kombinasi obat oral. Misalnya, metformin yang diberikan sebagai tambahan terapi insulin dapat memperbaiki glukosa darah dan lipid serum lebih baik dibandingkan hanya meningkatkan dosis insulin. Demikian juga efek sampingnya seperti hipoglikemia dan penambahan berat badan menjadi berkurang.










E. HASIL PRAKTIKUM

No. Pengamatan Hasil
1. Nama obat (merek) Avandia
Nama generik (isi obat) Rosiglitazone maleate
Jumlah dosis (mg/g) 4 mg/ tablet
Indikasi obat Untuk terapi tunggal (mmonoterapi) DM tipe 2, sebagai tambahan terhadap diet dan olahraga. Digunakan dalam kombinasi dengan metformin atau sulfonilurea.
Kontraindikasi obat DM tipe 1, ketoasidosis diabetic
Farmakokinetik
Farmakodinamik Rosglitazone meningkatkan sensitivitas insulin.
Digunakan dalam kombinasi dengan metformin
bilamana diet. Latihan dan avandia saja tidak dapat
mengontrol gula kadar gula darah. Pada pasien-
pasien yang tidak terkontrol dengan dosis
maksimum metformin, dapat ditambahkan avandia.
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Anemia ringan s/d sedang, edema, hiperkolesterolemia.
IKK C
2. Nama obat (merek) Actos
Nama generik (isi obat) Pioglitazone
Jumlah dosis (mg/g) 5 mg
Indikasi obat Terapi tambahan terhadap diet dan olahraga untuk memperbaiki kontrol glukosa pada pasien DM tipe 2. Sebagai monoterapi. Juga untuk terapi kombinasi dengan sulfonilurea atau metformin dimana diet dan olahraga plus monotertapi tidak menghasilkan kontrol glukosa darah yang adekuat.
Kontraindikasi obat Gagal jantung atau ada riwayat gagal jantung (NYHA stadium I s/d IV), gangguan hati, terapi kombinasi dengan insulin.
Farmakokinetik Tidak ada interaksi obat dengan digoksin, warfarin, phenprocoumon, metformin dan sulfonilurea.
Farmakodinamik
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Edema
IKK C
3. Nama obat (merek) Glucotrol XL
Nama generik (isi obat) Glipizide gits
Jumlah dosis (mg/g) 5 mg
Indikasi obat Mengontrol hiperglikemia pada pasien NIDDM
Kontraindikasi obat Gangguan berat fungsi ginjal dan hati, IDDM, khususnya diabetes juvenile, ketoasidosis, pra-koma diabetes.
Farmakokinetik
Farmakodinamik Aksi Glipizida terpotensiasi oleh obat-obat anti radang non steroid dan obat-obat lain yang berikatan kuat dengan protein, Salisilat, Sulfonamida, Kloramfenikol, Probenesid, Koumarin, obat-obat penghambat mono amin oksidase, β-adrenergik bloker.
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Hipoglikemi, erupsi mukokutan,, gangguan GI dan hati, kolestatik jaundice, agranulositosis, trombositopeni, anemia hemolitik dan aplastik, pansitopeni porfiria dan reaksi seperti disulfiram.
IKK C
4. Nama obat (merek) Glucobay 100
Nama generik (isi obat) Acarbose
Jumlah dosis (mg/g) 100 mg
Indikasi obat Terapi kombinasi dengan diet untuk DM
Kontraindikasi obat Penderita <18 thn, gangguan GI kronik Berkaitan dengan absorbsi dan pencernaan. Keadaan yang bisa memburuk karenapembentukan gas dalam usus. Kerusakan ginjal berat (bersihan kreatinin<25 ml/mnt). Hamil , laktasi
Farmakokinetik Dalam duodenum, zat ini berkhasiat menghambat enzim glucosidase (maltase, sukrase, glukoamilase) yang perlu untuk perombakan di/polisakarida dari makanan menjadi monosakarida. Resobsinya dari usus buruk, hanya kurang lebih 1.2% dan naik sampai lebih kurang 35% setelah dirombak secara enzimatis oleh kuman usus. Ekskresinya berlangsung cepat lewat kemih.
Farmakodinamik Berasal dari kuman, sehingga cara kerjanya berbeda dengan antidiabetika yang lain. Interaksi dengan makanan yang mengandung gula (sakarosa) meningkatkan resiko efek samping. Obat- obat lambung (antaside, enzim cerna, adsorbensia), laksansia, dan kolestiramin dapat mengurangi daya kerja akarbose. Resobsi obat- obat lain dapat dikurangi olehnya bila terjadi diare sebagai efek samping.
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Kembung, bising usus meningkat. Kadang diare dan nyeri abdomen.
IKK B
5. Nama obat (merek) Glucovance
Nama generik (isi obat) Metformin HCL – glibenclamide
Jumlah dosis (mg/g) 500 mg/ 2,5 mg / tablet
Indikasi obat Terapi tahap kedua untuk DM tipe 2 yang tidak dapat dikontrol dngan diet, olahraga, dan sulfonilurea atau metformin.
Kontraindikasi obat Gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung kongestif, hipersensitif terhadap metformin HCL atau glibenclamide atau sulfonilurea lain, asidosis metabolik akut atau kronik, gangguan fungsi hati, intiksikasi akut alkohol, alkoholisme, porfiria, laktasi.
Farmakokinetik Absorpsinya berjalan lambat. Waktu paruhnya 6-8 jam. Obat ini dieliminasi lewat urin dan feses.
Farmakodinamik Obat ini digunakan pada penderita Diabetes Melitus tipe 2. Obat ini akan dapat menimbulkan efek agonis bila diminum sesuai dosis.
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Infeksi saluran napas atas, diare, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, pusing.
IKK D
6. Nama obat (merek) Glurenorm
Nama generik (isi obat) Glicuidone
Jumlah dosis (mg/g) 30 mg/ tab
Indikasi obat NIDDM yang tidak cukup dikendalikan dengan diet saja.
Kontraindikasi obat IDDM, koma dan pre-koma diabetik, DM dengan komplikasi asidosis dan ketosis, alergi terhadap sulfonamida, porfiria, gagal ginjal, penyakit hati berat, penyakit infeksi akut. Hamil, laktasi.
Farmakokinetik Efek hipoglikemik diperkuat oleh alkohol, salsilat, sulfonamid, fenilbutazon, tuberkulostatik, kloramfenikol, tetrasiklin, derivat kumarin, siklofosfamid, kotrimoksasol, mikonidazole. Efek hipoglikemik berkurang oleh klorpromazin, simpatomimetik, kortikosteroid, hormon tiroid.
Farmakodinamik
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Gangguan GI, sakit kepala. Jarang : reaksi hipoglikemik, reaksi alergi pada kulit, perubahan pada sistem hemopoietik, intoleransi GI, trombositopenia, anemia aplastik, agranulositosis.
IKK
7. Nama obat (merek) Metrix
Nama generik (isi obat) Glimepiride
Jumlah dosis (mg/g) 1 mg/ tablet
Indikasi obat NIDDM yang tidak terkontrol secara adekuat hanya dengan diet, olahraga dan penurunan berat badan.
Kontraindikasi obat Ketoasidosis diabetes dengan atau tanpa koma. Hamil dan laktasi.
Farmakokinetik Dengan insulin dan oral antidiabetik lain, penghambat ACE, allopurinol, steroid anabolic, dan hormone seks pria, kloramfenikol, turunan kumarin, siklofosfamid, disopiramid, tentfluramin, feniramidol, fibrat, fluoxentin, guanetidin, ifosfamid, MAOI, mikonazol, para aminosalisilat, pentoksifilin (dosis tinggi parenteral), fenilbutazon, probenecid, gol kuinolon, salisilat, sulfonamide. Tetrasiklin dapat menimbulkan hipoglikemia. Dengan acetozolamid, barbiturate, kortikosteroid, diuretic, epinefrin dapat meningkatkan kadar gula darah. Antagonis reseptor H2, klonidin dan reserpin dapat mempotensiasi kadar gula darah. Beta bloker dapat menurunkan toleransi laktosa. Dapat menurunkan atau meningkatkan efek kumarin. Berkhasiat anti agregasi trombosit dan dapat memperbaiki aktivitas fibrinolitis.
Farmakodinamik Jarang menimbulkan ‘hipo’
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Muntah, nyeri saluran cerna, diare. Hipoglikemia. Kerusakan fungsi hati. Reaksi alergi pada kulit. Leukopenia. Gangguan akomodasi dan atau pandangan kabur.
IKK C
8. Nama obat (merek) Diamicron
Nama generik (isi obat) Glicazide
Jumlah dosis (mg/g) 30 mg
Indikasi obat DM tipe 2
Kontraindikasi obat Gagal ginjal berat, ensefalopati hepatik atau gagal hati berat, hipokalemia, trauma serebrovaskuler yang belum lama terjadi.
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Cara penggunaan
Efek samping Mual, sakit kepala, ruam, gangguan GI, hipoglikemia, vaskulitis alergi, peningkatan kadar enzim hati. Jarang : diskrasia darah.
IKK B
9. Nama obat (merek) Glibenclamide
Nama generik (isi obat) Glibenclamide
Jumlah dosis (mg/g) 5 mg/ tablet
Indikasi obat NIDDM
Kontraindikasi obat IDDM, diabetes, koma, ketoasidosis, DM dengan komplikasi (demam, trauma, gangren) kerusakan fungsi hati dan adrekortikal, kerusakan ginjal berat, kahamilan dan laktasi.
Farmakokinetik Reabsobsinya dari usus praktis lengkap, PP-nya di atas 99%, plasma –t1/2-nya kurang lebih 10 jam, daya kerjanya dapat bertahan sampai 24 jam. Dalam hati dirombak menjadi metabolit kurang aktif, yang diekskresikan sama rata lewat kemih dan tinja.
Farmakodinamik Khasiat hipoglikemisnya kira- kira 100 kali lebih kuat daripada tolbutamida. Resiko ‘hipo’ juga lebih besar dan lebih sering terjadi. Cara kerjanya lain dengan sulfonylurea lain, yaitu single dose pagi hari mampu menstimulir sekresi insulin pada setiap pemasukan glukosa (sewaktu makan). Dengan demikian selama 24 jam tercapai regulasi gula darah optimal yang mirip pola normal.
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Sensitisasi kulit, gangguan GI, leukopenia, intoleransi alkohol dan ikterus. Perubahan dari sistem hemopoetik.
IKK C
10. Nama obat (merek) Actos
Nama generik (isi obat) Pioglitazone
Jumlah dosis (mg/g) 4 mg/2 mg/ tablet
Indikasi obat Terapi tambahan terhadap diet dan olahraga untuk memperbaiki kontril glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Sebagai monoterapi. Juga untuk terapi kombinasi dengan sulfonilurea atau metformin dimana diet dan olahraga plus monoterapi tidak menghasilkan kontror glokosa darah yang adekuat.
Kontraindikasi obat Gagal jantung atau ada riwayat gagal jantung (NYHA stadium I s/d IV ), gangguan hati . Terapi kombinasi untuk insulin
Farmakokinetik Tidak ada interaksi obat dengan digoksin, warfarin, phenprocoumon, metformin dan sulfonilurea.
Farmakodinamik
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Edema
IKK C
11. Nama obat (merek) Avandaryl
Nama generik (isi obat) Rosiglitazone maleate / glimepiride tablets.
Jumlah dosis (mg/g) 4 mg /2 mg tablet
Indikasi obat Sebagaibtambahan terhadap diet dan olahraga guna memperbaiki kontrol gula darah pada pasien DM tipe 2.
Kontraindikasi obat Ketoasidosis diabetik dengan tau tanpa koma.
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Cara penggunaan Per oral
Efek samping Sakit kepala, nasofaringitis, hipertensi, hipoglokemia, edema.
Golongan
12. Nama obat (merek) Mixtard ® 30 HM Penfill ®
Nama generik (isi obat) Biosynthetic Human Insulin
Jumlah dosis (mg/g) 3 ml 100 iµ / ml
Indikasi obat DM yang memerlukan insulin
Kontraindikasi obat Hipoglikemia
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Cara penggunaan Injeksi
Efek samping Jarang , alergi dan lipoatrofi
IKK B
13. Nama obat (merek) Insulatard ® HM Penfill ®
Nama generik (isi obat) Biosynthetic Human Insulin
Jumlah dosis (mg/g) 3 ml 100 iµ / ml
Indikasi obat DM yang memerlukan insulin
Kontraindikasi obat Hipoglikemia
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Cara penggunaan Injeksi
Efek samping Hipoglikemia
IKK B
14. Nama obat (merek) Actrapid ® HM Penfill ®
Nama generik (isi obat) Biosynthetic Human Insulin
Jumlah dosis (mg/g) 3 ml 100 iµ / ml
Indikasi obat DM
Kontraindikasi obat Hipoglikemia
Farmakokinetik
Farmakodinamik
Cara penggunaan Injeksi
Efek samping Hipoglikemia
IKK B
















KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis DM ada 3 macam. Tipe I, II, dan III. Antidiabetika yang aman untuk ibu hamil antara lain Glucobay, Actrapid HM, Actrapid Novolet, Insulatard HM, dan Mixtard HM.












































DAFTAR PUSTAKA

1 komentar:

Fikri Dikha at: 8 Desember 2013 08.04 mengatakan...

Pusing memahaminya... tp makasih infonya

Poskan Komentar

newer post older post