TUGAS PRAKTIKUM ASUHAN KEBIDANAN IV B ( PATOLOGI II ) “KISTA KELENJAR BARTOLINI“



0 komentar
Dosen Pembimbing : Hikmah Sobri S.Pd.M.Kes

Disusun oleh :
Pinky Defita 090105131
Isnaini Nur A 090105132
Fajar Ayu G 090105133
Marwati 090105134
Muharia 090105135
Anita Rahmawati 090105136
Hermia Fithri Lailatul H 090105137
Arwinda Nur M 090105138

PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2011
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Syukur alhamdulilah penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penyusun diperkenankan untuk menyelesaikan makalah asuhan kebidanan IV B sebagai syarat untuk melengkapi tugas pada semester genap tahun pelajaran 2011 di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta. Tidak lupa penyusun sampaikan rasa terima kasih kepada pihak – pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini :
1. Ibu Rina selaku dosen mata kuliah askeb IV B
2. Ayah dan Ibu tercinta yang senantiasa memberikan semangat dan dorongan belajar yang tinggi
3. Teman- teman tersayang yang telah memberikan bantuan moral dan material sehingga memperlancar tersusunnya makalah ini.
Penyusun mengharap adanya saran dan kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah ini.
Wassalamu’aaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Yogyakarta , April 2011

Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses.
Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
II. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kista bartolini?
2. Apa penyebab dan gejala kista bartolini ?
3. Bagaimana patofisiologi pada kista bartolini?
4. Bagaimana cara pengobatan kista bartolini ?

I. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu kista bartolini
2. Untuk mengetahui kenapa kista bartolini dapat terjadi pada perempuan atau penyebab terjadinya kista bartolini
3. Untuk menambah pengetahuan tentang pencegahan agar tidak terjadi kista bartolini .
4. Untuk menambah wawasan tentang penanganan atau pengobatan kista bartolini

II. Manfaat
1. Memberikan penjelasan pada perempuan tentang gangguan reproduktif mengenai hal-hal yang terjadi bila mengalami kista bartolini .
2. Memberikan informasi tentang pengobatan kepada perempuan apabila terkena kista bartolini.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Defenisi
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi
2. Anatomi, Histologi dan Fisiologi kelenjar Bartolini Anatomi
Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna, kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk bundar, dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal inferior. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira- kira 2 cm yangterbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palapasi. seperti pada gambar dibawah ini :

Histologi
Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel kolumnair atau kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus genital.
Fisiologi
Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.
3. Epidemiologi
Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista Bartolini, yang paling umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi. Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. Beberapa penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114 kanker per 100.000 wanita-tahun).Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi lebih buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di dalam hidup mereka. Jadi, hal ini adalah masalah yang perlu dicermati.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda.
4. Etiologi
Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut.
Bartholinitis juga dapat menjadi abcess karena saluran kelenjar tertutup dan berlangsung proses penahanan di dalam kelenjar. abcess ini merupakan bahaya bagi terjadinya infeksi nifas. oleh karena itu abcess harus di sembuhkan terlebih dahulu sebelum tiba masa persalinan. yang belum memasuki masa persalinan di obati dulu dengan obat obat sulfa seperti sulfadiazin dan eklosin, yang sudah tenang di insisi atau kelenjar yang mengandung nanah di angkat seluruhnya (marsupialisasi) kista bartholin biasanya kecil antara ukuran ibu jari dan bola pingpong,tidak terasa nyeri dan tidak menggangu koits, bahkan kadang tidak disadarioleh penderita.


5. Gejala
Banyak kista Bartolini tidak menyebabkan gejala apapun. Biasanya ditemukan ketika seorang wanita datang kedokter untuk pemeriksaan umum tanpa keluhan apapun, tanpa rasa sakit vagina. Namun, jika kista tumbuh lebih besar dari diameter 1 inci, dapat menyebabkan ketidaknyamanan ketika duduk, atau selama hubungan seksual. Jika kista menjadi terinfeksi, berisi nanah, dan menjadi bengkak, hal ini sangat menyakitkan, sehingga sulit bagi seorang wanita untuk duduk, berjalan atau melakukan hubungan intim. Kista Bartolini menyebabkan pembengkakan labia di satu sisi, dekat pintu masuk ke vagina. Sebuah kista biasanya tidak sangat menyakitkan, dan rasa sakit yang signifikan menunjukkan bahwa abses telah berkembang. Namun, kista yang besar mungkin akan menyakitkan sesuai dengan ukurannya.Karena letaknya di vagina bagian luar, kista akan terjepit terutama saat duduk dan berdiri menimbulkan rasa nyeri yang terkadang disertai dengan demam. Pasien berjalan mengegang ibarat menjepit bisul diselangkangan.


6. Pengobatan
Biasanya penderita bartholinitis berobat karena nyeri. Pada abses bartholini terdapat ciri kelenjar membesar, kadang merah, nyeri dan berisi nanah atau darah serta pada palpasi teraba massa kistik. Pada abses bartholini sudah diperlukan terapi operatif, berupa incisi yaitu membuat irisan pada dinding kista/abses untuk mengeluarkan isinya. Selain itu juga diberi terapi obat antibiotic dan obat simptomatik.

Radang pada glandula bartholini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi menahun dalam bentuk kistha bartolini. Pengobatan kista bartholini dengan memberikan analgetik dan antibiotic spectrum luas. Jika terjadi menahun maka harus dilakukan marsupialisasi.

Marsupialisasi pada glandula bartholini adalah indikasi umum ketika sebuah abses menjadi besar sehingga eksisi sulit dilakukanpada abses yang besar tersebut. Pada operasi ini, pembedahan dilakukan dengan membuka dinding dan mengeluarkan eksudatnya.

Marsupialisasi ini sangat menguntungkan karena selain cepat , operasi ini resiko perdarahan sangat rendah dan dapat dilakukan hanya dengan pemberian anestesi local. Yang perlu diperhatikan adalah pembelahan pada glandula harus cukup adekuat untuk mengeluarkan isi abses tersebut.

Sebaiknya kista pada ibu hamil di biarkan saja dan baru di angkat kurang lebih 3 bulan setelah persalinan. apabila kista sering meradang walaupun sudah di obati berlang kali atau apabila kista sangat besar sehingga di khawatirkan akan pecah sewaktu melahirkan ,maka sebaiknya kista tersebut di angkat dalam keadaan tenang.sebelum lahir ada kalanya kista sangat besar dan baru di ketahui sewaktu wanita sudah dalam persalinan. Dalam hal demikian di lakukan pungsi dan cairan di keluarkan walaupun ini bukan therapi tetap. setelah selesai marsupialisasi baru di lakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Padjajaran,Universitas.2003.Obstetri Patologi Edisi 2,Jakarta : EGC
Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo.
Wiknjosastro, H. 2006.Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

















KASUS
Seorang ibu benama Ny. M datang ke RB Permata Bunda Yogyakarta. Ibu mengatakan pada bidan bahwa ia merasa adanya benjolan atau massa di dekat lubang vagina. Ibu juga mengatakan bahwa ia tidak nyaman pada saat duduk dan berjalan. Ibu mengatakan benjolan tersebut terasa sakit dan mengganggu aktivitasnya. Ibu merasa khawatir atas keadaannya sekarang ini. suami dan keluarga mendukung ibu untuk berobat. Ibu berharap benjolan tersebut dapat disembuhkan.

















ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “M’’ DENGAN KISTA BARTOLINI
DI RB PERMATA BUNDA YOGYAKARTA


No. Reg : 02451
Tanggal : 4 April 2011
Jam : 10.00 WIB
Oleh : Bidan Vita

A. SUBJEKTIF
Identitas, tanggal 4 April 2011 jam 10.00 WIB oleh: bidan Vita

Nama ibu : Ny “M” Nama suami : Tn “K”
Usia : 23 th Usia : 25 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa Suku/bangsa : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : buruh pabrik Pekerjaan : Pekerja bangunan
Alamat : Jl Jingga No. 10 Alamat : Jl Jingga No. Babarsari 10 Yogyakarta Babarsari Yogyakarta
No. telepon : 085641234xxx No. telepon : 085641233xxx

1. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaannya
2. Keluhan utama
Ibu mengeluh merasa adanya benjolan atau massa di dekat lubang vagina. Ibu juga mengatakan bahwa ia tidak nyaman pada saat duduk dan berjalan
3. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah mengidap penyakit menurun seperti asma, diabetes melitus,dsb, dan tidak mengidap penyakit menular seperti Hepatitis, HIV/AIDS.
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menurun seperti asma, diabetes militus, jantung dsb dan tidak sedang menderita penyakit menular seperti hepatitis , HIV/AIDS dsb.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan baik dari keluarga Ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menurun sepeti asma, diabetes melitus, jantung dsb dan tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti hepatitis, HIV/AIDS dsb
6. Riwayat Perkawinan
Usia menikah : Istri 20 tahun dan Suami 23 tahun
Lama menikah : kurang lebh 3 tahun
Menikah : 1x
Status pernikahan : syah
7. Riwayat haid
a. Menarche umur : 12 tahun
b. Haid : teratur siklus 28 hari
c. Banyaknya : hari pertama :bercak-bercak merah
hari 2-3 :2-3 kali ganti pembalut penuh
hari 4-6 :2-3 kali ganti pembalut tidak penuh hanya sedikit dan bercak-bercak.
d. Disminore : tidak
e. Warna : pada hari pertama dan kedua merah kehitaman bentuk darah mengumpal
f. Bau : khas darah
g. Keputihan : ada
8. Riwayat obstetric : P1 A0 Ah1
9. Riwayat KB
Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun.
10. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Eliminasi
Ibu mengatakan 1X BAB dalam 1 hari. Konsistensi lunak warna kuning.
BAK 3-4x sehari dengan warna kekuningan, bau khas.
b. Nutrisi
Makan 3x sehari dengan komposisi 1 porsi nasi, sayur dan lauk.
Minum 4-5 gelas perhari, jenis hanya air putih dan teh kadang-kadang
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi 2X sehari, ganti baju 2X sehari, gosok gigi 2X sehari. Terkadang ibu mandi di sungai. Keluhan kadang ibu merasa gatal di daerah kemaluan.
d. Pola Seksual
Ibu mengatakan semenjak adanya benjolan tersebut hanya melakukan hubungan 1-2x dalam 1 minggu. Ibu mengatakan tidak nyaman dan merasa sakit saat berhubungan intim.
11. Riwayat psikososial dan spiritual
a. Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya saat ini.
b. Keluarga dan suami mendampingi
c. Keluarga dan suami ibu mendukung untuk berobat.
d. Hubungan ibu dengan suami, keluarga, tetangga baik.
e. Ibu menjalankan ibadah dengan baik di tempat tidur.
f. Ibu mengatakan tidak memiliki hewan peliharaan.
g. Keluarga masih percaya dengan mitos dimasyarakat
h. Adat dan kebudayaan masih sangat kental
i. Pengambilan keputusan dalam keluarga : ibu dan suami
12. Kebiasaan-kebiasaan yang menggangu kesehatan
a. Merokok : tidak pernah
b. Minuman beralkohol : tidak pernah
c. Jamu-jamuan : tidak pernah

B. Data Objektif tanggal 4 April 2011 jam 10.30 WIB. Oleh: bidan Vita
Keadaan Umum : Kelihatan lemas
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Nadi : 110x/menit
Suhu : 37o C
Pernafasan : 30x/menit
BB : 57kg
TB : 157cm
1. Pemeriksaan fisik
a. Rambut : bersih,hitam,tidak rontok,tidak mudah dicabut
b. Edema wajah : tidak ada
c. Mata : simetris, sklera putih,konjungtiva merah muda.
d. Hidung : tidak ada polip dan bersih
e. Telinga : simetris, tidak ada pengeluaran serumen dan bersih
f. Mulut : bersih, bibir pucat, kering, caries tidak ada
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, kelenjar tiroid dan tidak ada pelebaran vena jugularis
h. Payudara : simetris,, puting susu menonjol, tidak ada benjolan.
i. Abdomen : tidak ada bekas luka parut.
j. Ekstremitas : tidak ada oedem dan varises, reflek patella kanan/kiri positif
k. Genetalia : Vulva tidak varises, terdapat benjolan kecil di dekat lubang vagina. Ada nyeri tekan pada labia mayora kanan.
l. Anus : Tidak hemoroid.

C. Assesment tanggal 4 April 2011 jam 11.45 WIB oleh: Bidan Vita
Ny “M” umur 23 tahun dengan kista bartolini


D. Planing tanggal 4 April 2011 jam 11.45 WIB oleh: Bidan Vita
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya bahwa ibu menderita kista bartolini dan ibu mengerti
2. Memberikan dukungan psikologi kepada ibu seperti menenangkan ibu dan ibu merasa lebih tenang.
3. Meberikan penjelasan pada ibu bahwa penyakit ini dapat disembuhkan, ada dokter spesialis yang bisa menangani masalah ini.
Ibu mengerti dan merasa lebih tenang.
4. Memberikan penjelasan kepada ibu untuk menjaga kebersihan personal hygiene karena dengan personal hygiene yang tidak bagus akan memperparah keadaannya, ibu mengerti dan mau melaksanakan anjuran bidan.
5. Berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat Asam Mefenamat 3 x 500 mg dan parasetamol 3 x 500 mg pada ibu.
Ibu bersedia meminumnya.
6. Melakukan rujukan ke RS untuk tindakan selanjutnya seperti pembedahan kista tersebut dan pengobatan lebih lanjut.
Ibu bersedia untuk dilakukan rujukan.
7. Mendokumentasikan tindakan
Bidan sudah mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.




TTD


Bidan Vita








KESIMPULAN

Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang.
Banyak kista Bartolini tidak menyebabkan gejala apapun. Biasanya ditemukan ketika seorang wanita datang kedokter untuk pemeriksaan umum tanpa keluhan apapun, tanpa rasa sakit vagina. Namun, jika kista tumbuh lebih besar dari diameter 1 inci, dapat menyebabkan ketidaknyamanan ketika duduk, atau selama hubungan seksual. Jika kista menjadi terinfeksi, berisi nanah, dan menjadi bengkak, hal ini sangat menyakitkan, sehingga sulit bagi seorang wanita untuk duduk, berjalan atau melakukan hubungan intim.
Pengobatan kista bartholini dengan memberikan analgetik dan antibiotic spectrum luas. Jika terjadi menahun maka harus dilakukan marsupialisasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

newer post older post